arsitek & kehamilan
December 15, 2007
menakjubkan bagaimana saya merasa pekerjaan sebagai arsitek sama sekali tak mendukung kehamilan, atau, adanya bayi. Saat harus konsentrasi menggambar 3dmax di kehamilan 5 bulan, otak ini sama sekali tak mau diajak bekerjasama. Hanya ingin mengulik hal2 yang berhubungan dengan bayi. Sementara lingkungan kerja yang sepenuhnya pria sama sekali tak mendukung tuk berbagi cerita tentang kehamilan atau bayi. Rekan sekerja mengira saya melebih2kan ketika pekerjaan saya menjadi lambat atau melihat saya tak bisa berkonsentrasi. Setiap kali kontrol ke dokter kandungan saya hanya bisa iri melihat perawat yang setiap hari berhadapan dengan kehamilan dan bayi.
Pembicaraan mengenai bangunan-bangunan teranyar karya arsitek dunia , atau bangunan apapun tiba-tiba menjadi hambar. Rasanya seluruh dunia kearsitek-an menjadi hambar dibanding proses kehidupan yang sedang saya jalani. Hei, saya sedang mengandung! Dan perubahan ini begitu baru dan aneh dalam hidup saya, si anak tunggal yang sama sekali tak pernah mengurusi bayi atau ikut mengamati kehamilan dari dekat.
Entahlah, saya rasa hormon kehamilan, perasaan kewanitaan dan profesi arsitek sama sekali tak bersahabat. Profesi ini saya rasakan begitu kering tak bernyawa, tak memberikan sumbangan yang langsung-hangat-menyentuh kemanusiaan seperti profesi dokter. Maaf,rekan2 lain yang kebetulan berprofesi sebagai arsitek. Mungkin saya hanya belum menemukan sisi kemanusiaan dari profesi ini, yang kadang hanya terjebak dalam penciptaan keindahan demi ego seorang perancang.
Entry Filed under: curhat ibu. Tags: arsitek, hamil bekerja, ibu bekerja, kehamilan.
1 Comment Add your own
Leave a Comment
Some HTML allowed:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <pre> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>
Trackback this post | Subscribe to the comments via RSS Feed

Gelang, Kalung, Anting, Tas, Sandal, Baju, Dll, Bali, Indonesia
Tempat Lirik, Kunci Gitar / Kord / Chord Lagu / Musik Indonesia dan Mancanegara







1.
efi | May 2, 2008 at 10:18 am
mo ksh comment nih….
emang gitu mba’….profesi sbg arstek itu,,,,,auranya emang bau kemaskulin.itu yang dibilang ibu saya 15 tahun yang lalu….utk mencegah saya utk tidak ikut terjun bebas kearea sana.
Ternyata……faktanya…..tanpa rasa……human interistingnya thd kewanitaan sangat tdk ada. Buat mereka….”rasa” hanya utk bikin menara menjulang…buat menyusun keramik menjadi indah….selain itu……no way. jgn berharap apa-apa.
masalah pekerjaan….inginnya mereka jadi yg nomer 1-krn merasa seorang lelaki. tapi…..untuk kerjaan yang berat..yang membutuhkan ketekunan yang luar biasa..maunya kita yang turun tangan. aduuuuh malu jadi laki2….
buat jabatan…mereka merasa paling kuat…..tapi masalah ide…..tetap cari wanita, habis itu mereka masukkan kekepala mereka….diangatin sedikit, kasih bumbu sedikit…..lalu dikeluarkan ,dinyatakan kekhalayak….bahwa mereka punya ide baru………..gilaaaaa tdk tau malu…..
Dan…yang dahsyat lagi, setelah pantang pententeng dengan rasa menguasainya itu…..disaat kita melilit setiap bulannya bahwa kita “kedatangan tamu”…..mereka dengan entengnya bilang….”masak segitu aja”….minta cuti…ato “nggak bisa kerja”.
padahal…sama istri dirumah , mereka tdk bisa berkutik…terhadap rengekan para perempuan pemalas..yang kerjanya cuma shopping melulu. kasiiiiiiiia lelaki…